Return to Literature

Opini

Antara Pertobatan dan Kekuasaan

Fr. Gabriel Wanes

Fr. Bie

Fr. Bie

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; sebab di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya”

Matius 6:19

Tradisi puasa dalam kehidupan Gereja sesungguhnya telah ada sejak gereja tampil di atas muka bumi. Bahkan secara teologis, gereja Tuhan telah mewarisi tradisi puasa dari umat Israel sebagaimana disaksikan dalam Alkitab Perjanjian Lama. Sehingga tradisi puasa dalam kehidupan jemaat Kristen bukan sekedar suatu ibadah yang mau “ikut-ikutan”. Juga kita tidak melaksanakan puasa karena gereja Roma Katolik telah melaksanakan ibadah puasa sejak dahulu. Demikian pula kita melaksanakan puasa bukan karena saudara-saudara seiman di gereja Pantekosta atau yang mengikuti aliran kharismatik sering melakukan ibadah “doa-puasa”. Kita melaksanakan puasa karena sesungguhnya puasa dipakai oleh Tuhan untuk melatih rohani kita agar spiritualitas kita makin terbuka untuk menghayati pertobatan sebagai sikap hidup. Pertobatan yang dimaksud adalah agar kehidupan kita makin berkenan di hati Tuhan dan setia memelihara kekudusan hidup. Itu sebabnya makna pertobatan bukan terletak pada upacara lahiriah dan kebiasaan keagamaan, melainkan pada pertobatan hati.

READ MORE…

 

Bergembira Bersama Penderitaan

 Fr. Aurelius

Fr. Aris

Fr. Aris

Mungkin nama Viktor Frankl tidak mendapatkan tempat yang asing dalam kacamata akademis kita. Nama ini sering muncul dalam tatana filsafat, suatu tempat yang menjadi biduk utama kita berlayar dalam semangat pengetahuan. Viktor Frankl memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam refleksi penderitaan manusia bertolak dari pengalaman dirinya bersama orang-orang yang selamat dari kamp konsentrasi. Ia mencoba mengukit masalah-masalah lalu itu dan menyembuhkannya dengan sikap maaf dan pengampunan mendalam. Bagi dia hanya pengampunanlah yang memutuskan rantai trauma penderitaan masa lalu.

READ MORE…                                                                                                                       

                                                                                                                                                           

Citra Religius Itu Hampa

 Fr. Geby Ediman

Fr. Gaby

Fr. Gaby

Perdebatan sengit terjadi antara Yesus dengan orang Yahudi. Yesus mengecam orang-orang Yahudi yang mengaku diri sebagai keturunan Abraham tetapi tidak hidup seturut semangat hidup Abraham. Mereka tidak mengerjakan apa yang dikerjakan Abraham. Padahal, Abraham adalah tokoh iman Israel. Nama Abraham dipakai untuk menjadi rujukan asal muasal silsilah sekadar mempertahankan status quo, dan mendapatkan pengakuan atau pujian semu. Motivasi lain dari penggunaan nama Abraham adalah untuk mencari kemuliaan, nama, gengsi, citra religius di hadapan Manusia bahkan di hadapan Tuhan. 

READ MORE…

 

Kembali ke Awal Penciptaan dan Solidaritas Allah

Fr. Rofinus M. Muga

Fr. Rudi

Fr. Rudi

(Refleksi Terhadap Cita-Cita Keadilan Sosial

dalam Perspektif Nota Pastoral KWI Tahun 2004)

            Sila kelima Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Sila ini pada dasarnya hendak menyatakan, salah satu tujuan berdirinya Negara Indonesia adalah kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Negara ini kini tengah memasuki usianya yang ke enam puluh tujuh. Kecemasan yang muncul adalah bahwa sila kelima yang dibanggakan ini pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah utopia murni tanpa pernah tercapai. Sebabnya, cita-cita kesejahteraan masyarakat kini dijawab dengan situasi nyata yang jauh dari ideal, dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi meski pemerintah mengklaim adanya pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Konkretnya, dewasa ini, kesenjangan ekonomi sangat terasa. Di satu pihak bermunculan di mana-mana golongan elit yang memiliki harta kekayaan yang luar biasa banyak, sementara di pihak lain, jumlah jumlah orang miskin tidak berkurang, dan justru semakin meningkat. 

READ MORE…

Mengampuni Keberdosaan Erotisme

(Fr. Theo Acai)

Fr. Theo

Fr. Theo

Mendengar kata eros, erotik, erotisme,  pasti kebanyakan orang membayangkan  tentang hal-hal yang  berkaitan dunia seksual atau paling kurang mengarah kepada ekses-ekses negatif. Jansen Sinamo dalam pengantar tulisanya yang berjudul “Hidup Yang Erotik” menuturkan bahwa eros, erotik, erotisme merupakan tiga kata yang berasal dari akar sama. Suasananya juga sama, yakni gelora semangat purba yang atraktif dan menggoda. Menjijikkan bagi kaum saleh tapi menggairahkan bagi orang kebanyakan, kotor bagi para pemeluk teguh tapi merangsang bagi warga abangan, najis bagi umat alim tetapi spirit bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

READ MORE…

 

 

Pertobatan, Persekutuan, dan Solidaritas.

Fr. Stefan S. Heno

Fr. Van

Fr. Van

Sebagaimana umum dikenal, kata pertobatan berhubungan dengan kata Ibrani tesuve (berbalik) dan kata Yunani metanoia (perubahan arah hidup). Dalam konteks yang lebih sederhana, pertobatan adalah sebuah upaya manusia untuk berbalik kepada Yesus. Sebuah usaha membanting setir dalam hidup dari habitus lama ke habitus baru dalam Kristus. Penyesalan dalam konteks ini tidak hanya final pada sebuah bahasa nonverbal dengan memukul dahi, sedih, malu, sebagai ungkapan pertobatan tetapi secara radikal merubah cara hidup dari yang lama ke cara hidup yang baru-benar.

READ MORE …

PILKADA sebagai Upaya Pertobatan Massal

 Fr. Oyen Feto

Fr. Oyen

Fr. Oyen

Tulisan ini merupakan buah dari ide-ide tercecer yang ada dalam hati dan pikiran penulis.  Di tengah realitas pilkada (dan pilgub) yang begitu menyita perhatian banyak orang, penulis tergelitik untuk merefleksikannya. Atmosfer pesta demokrasi rakyat ini hampir memenuhi semua lini dunia baik dunia nyata maupun dunia maya. Sampai tulisan ini diturunkan, proses pemilihan kepala daerah kabupaten Sikka sudah berlangsung. Dan bahkan hasil rekapitulasinya pun (katanya) sudah bocor ke telinga masyarakat. Lalu, ada wacana kalau PILKADA Sikka akan berlangsung dalam dua putaran. Setelah putaran pertama (mungkin) masih buntu alias belum mencapai hasil yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan.

READ MORE…

PUASA DAN PANTANG: AKTUALISASI TRADISI  LAMA DALAM KIRBAT BARU

Oleh Fr. Donnie Migo

Fr. Donni

Fr. Donni

Catatan Awal

 Praktek hidup dan latihan rohani untuk berpuasa dan berpantang merupakan harta Gereja yang tak ternilai. kebiasaan ini telah berlangsung amat lama dalam Gereja. Sejak Zaman Perjanjian Lama, umat Allah telah memaklumkan puasa dan pantang. Kebiasaan ini pula telah menjadi dasar pijak bagi perkembangan hidup rohani di tengah umat dalam kesatuan dengan Gereja Universal. Tradisi yang telah hidup berabad-abad ini seringkali dipengaruhi virus rutinitas belaka sehingga warnanya perlahan memudar dan sinarnya kian meredup. Praktek puasa dan pantang sepertinya mulai bergeser ke ruangan kelas cadangan dari pada kelas utama. Puasa dan pantang lebih dianggap sebagai pilihan alternatif dengan standard minimalis bukan orientasi utama dengan ukuran maksimalis. “Berpuasa dan Berpantang itu baik tetapi tidak berpuasa dan berpantang juga tidak ada salahnya.” mentalitas seperti ini telah masuk dalam kehidupan Gereja sehingga tidak mengherankan jika arah hidup menggereja zaman ini menjadi begitu sulit untuk dinahkodai. Muncul pertanyaan baru, Apakah Tradisi Lama kerap kali bertolak belakang dengan Kibrat Baru zaman ini? Bukankah kolaborasi keduanya mampu menghadirkan wajah baru dalam menerjemahkan bentuk penderitaan dalam konteks zaman ini?

READ MORE …

Talk Less, Do More

Fr. Ryan G
Fr. Rian

Fr. Rian

Realitas kehiduapan manusia dewasa ini seringkali diwarnai oleh kebingungan. Kebingungan itu mengantar manusia pada ambiguitas arti kehidupan, antara apa yang hendak dicapai dengan perjuangan yang diusung untuk menggapai arti kehidupan itu sendiri. Sejalan dengan itu, nilai kehidupan manusia mengalami kemerosotan dalam berbagai aspek kehidupan. Manusia kian menjadi pribadi untuk  dirinya sendiri dan membentengi diri terhadap aneka pergerakan yang datang dari luar untuk mempengaruhi. Manusia berjalan pada kehendak yang diciptakannya sendiri dan menakarnya sesuai dengan takaran kebenaran individualnya.

Tobat dan Aksi Menuju Yang Lain

Fr. Lian Angkur

Fr. Lian

Fr. Lian

“…..Belum lama kupungut seorang anak dari jalanan. Dari wajahnya dapat kulihat kalau ia kelaparan. Aku tak tahu, sudah berapa hari ia tak mendapat makan. Kuberi dia sepotong roti. Dan anak itu hanya makan secuil-cuil saja. Lalu kukatakan padanya; habiskanlah rotimu itu!. Anak itu memandangku dan berkata: Aku tak berani makan roti ini, aku takut jika roti ini habis, aku akan menjadi lapar lagi!.

READ MORE…