↑ Return to Renungan

YESUS Saja…, Dicobai Iblis?

YESUS Saja…, Dicobai Iblis?

Fr. Flory

Fr. Flory

Fr. Flory Suyanto

Kita mungkin pernah berpikir, “mengapa Yesus, yang adalah Putera Allah, dicobai Iblis? Kalau Yesus itu ada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia, lalu mengapa iblis bisa mencobai-Nya? Saya menghantar permenungan kita dari sudut pandang perikop Injil Matius 4:1-11. Dijelaskan bahwa Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun. Roh itu adalah Allah sendiri. Allah menghendaki PuteraNya, Yesus Kristus, harus melewati masa untuk berpuasa sebelum menerima penderitaan-Nya di jalan salib. Yesus berpuasa dan berdoa di padang gurun selama 40 hari dan 40 malam lamanya. Datanglah iblis untuk mencobai Yesus. Iblis datang pada saat Yesus merasa lapar, apalagi dengan situasi padang gurun yang begitu gersang, panas-dingin, sepi, dan bahkan situasinya sangat menakutkan. Padang gurun merupakan simbol dari wilayah kekuasaan setan, sehingga menghadirkan sebuah kehidupan yang penuh dengan tantangan dan godaan. Di sana, orang dapat melatih diri untuk berpuasa dan bermati raga secara total. Sekian lamanya, Yesus berada di padang gurun untuk berdoa kepada Bapa-Nya, lalu iblis pun datang untuk menguji kekuatan Yesus dengan tawaran-tawaran yang menggiurkan. Namun, Yesus sesungguhnya tidak sendirian di situ, melainkan bersama BapaNya. Kita percaya bahwa Allah tidak bisa dicobai iblis, namun Yesus berada di padang gurun mutlak sebagai manusia. Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Kemanusiaan Yesus itulah yang dicobai iblis.

Dari kisah pencobaan itu, ada tiga bentuk godaan yang dialami Yesus. Godaan Pertama, Iblis minta Yesus agar dapat mengubah batu menjadi roti. Suatu bentuk godaan yang bersifat materialistis dan kenikmatan. Iblis tahu bahwa Yesus sedang lapar. Roti adalah makanan yang bisa membuat kenyang perut yang lapar. Ada atau tidaknya roti atau makanan berhubungan dengan mati hidupnya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan manusia. Godaan ini bersifat ekonomis, materialistis (menyangkut tubuh). Godaan Kedua, Yesus diminta untuk menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah yang tinggi. Godaan ini berkaitan dengan kekuasaan yang dimiliki Yesus. Apakah Yesus mau menyalahgunakan kuasa ke-Allahan-Nya ataukah menolak tawaran kekuasaan itu (menyangkut nyawa). Godaan Ketiga, iblis meminta Yesus untuk menyembahnya, dan berjanji akan memberikan seluruh kerajaan dunia kepada-Nya. Iblis menjanjikan kehormatan dan kemuliaan kerajaan dunia kepada Yesus. Godaan ini berkaitan dengan kemuliaan, kehormatan, prestise atau popularitas (menyangkut roh). Yesus menolak tawaran iblis dan dengan keras Ia mengatakan, “Enyahlah iblis! Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan kepada Dia sajalah engkau berbakti! Yesus mematahkan serangan iblis dengan menggunakan Pedang Roh yakni ‘Firman Allah’. Kemenangan itu sangatlah sempurna karena mampu mematahkan daya tipu iblis sehingga iblis gagal mencobai Yesus, lalu iblis pun angkat kaki dari hadapan Yesus. Yesus dicobai iblis? Mengapa? Pencobaan ini mau menggambarkan ketaatan Yesus kepada kuasa Allah sebagai Putera Bapa dan menunjukkan kepada kita bahwa segala kekuatan di bumi ini hanya tunduk kepada kuasa Allah. Kekuasaan Bapa ada dalam diri Yesus Putera-Nya dan Yesus datang ke tengah dunia untuk mewujudnyatakan kemahakuasaan Bapa bagi segala makhluk di bumi. Sehingga, kekuatan iblis dapat dikalahkan dan ia pun lari-pergi. Lalu, pada akhir kisah tersebut, malaikat-malaikat Allah datang untuk melayani Yesus. Allah menyuruh malaikat-malaikat-Nya datang melayani semua orang yang mencari kemenangan dengan jalan setia kepada Firman-Nya.

Dalam kehidupan harian, kita kadang mengalami godaan yang berkaitan dengan harta, kuasa dan popularitas ini. Kita selalu ingin memiliki harta yang banyak agar kita berkuasa sewenang-wenang dan harga diri kita menjadi lebih tenar di tengah kehidupan bersama, padahal sesungguhnya bahwa hal itu tidak sesuai dengan kehendak Allah. Kadang kita dihadapkan dengan tawaran duniawi yang menggiurkan. Di tengah situasi demikian sering kita lebih mudah mengorbankan kehendak Allah. Kita lebih dikuasai kehendak bebas dan memilih untuk tetap menggenggam harta, kuasa, dan popularitas, kendatipun hal-hal itu sudah jelas-jelas tidak menyelamatkan kita bahkan membawa pada kehancuran. Ketika kita terikat dengan hal-hal yang hanya menguntungkan diri atau kenikmatan bagi diri, sesungguhnya kita terbelenggu oleh dosa. Kejatuhan manusia dalam dosa berawal dari sikap manusia yang tidak mau melepaskan apa yang ada dalam wilayah kekuasaan dirinya. Manusia tetap memegang atau menggenggam tawaran yang datang kepadanya, walaupun itu tidak menyelamatkan atau jelas-jelas tidak sesuai dengan suara hatinya. Bila kita menyadari diri seutuhnya, panggilan hidup kita adalah panggilan untuk selalu dekat dengan Allah, bukan pada kekuatan lain. Kita tidak dipanggil untuk mendekatkan diri dengan iblis atau bahkan menjadi iblis. Iblis dalam artian kelemahan atau kecenderungan kita untuk melawan kebaikan Allah. Ketika kita dikuasai oleh kecenderungan sikap malas, misalnya malas berdoa, malas bekerja, malas makan, malas berolah raga, malas tidur, malas belajar, malas kuliah, malas hidup bersama yang lain atau bahkan malas untuk betah di sini, maka sesungguhnya kita sedang dikuasai iblis. Kita bisa namakan iblis itu adalah kemalasan. Mungkin itulah godaan-godaan yang selalu menantang kita di sini. Bagaimana situasi batin kita saat menghadapi godaan-godaan ini? Tentu merasa tidak tenang, mudah galau dan bahkan tidak punya harapan akan kebaikan. Namun, hal yang pasti bahwa segala bentuk godaan itu dapat kita hadapi saat kita tidak jauh dan menjauhkan diri dari Allah dan sesama.

Bagi kita orang Kristen, masa prapaskah merupakan moment yang dikhususkan untuk pertobatan. Hal ini diwujudkan dalam sikap batin yang kusuk dalam doa dan puasa karena kita percaya bahwa pertobatan merupakan jalan untuk berdamai dengan Tuhan. Kita berpuasa untuk apa? Untuk memurnikan sikap iman kita kepada Allah dan menyongsong hari kebangkitan kita saat Kristus bangkit pada hari Raya Paskah. Dengan bertobat rahmat pengampunan Allah akan turun atas kita, karena kita semua meyakini bahwa keselamatan dan pengampunan tidak hanya lahir dari usaha manusia untuk bersatu dengan Allah tetapi lebih dari itu, ia merupakan anugerah rahmat cinta kasih Allah kepada manusia. Kita bertobat kepada Allah karena kita menyadari diri sebagai pendosa yang seringkali jatuh dan menjadi tak berdaya. Dalam dan melalui iman yang teguh, kita yakin Allah setia mencintai kita yang mau bertobat. Sekalipun dosa kita berlipat ganda, Yesus tetap mengajak kita untuk kembali kepada Allah. Yesus telah menunjukkan hal itu dengan tetap taat dan setia pada kehendak Allah. Iblis tidak dapat mempengaruhi Yesus karena Yesus tidak pernah berambisi untuk menggenggam harta, kuasa dan popularitas. Kita berpuasa dengan cara bagaimana? Pada masa prapaskah ini kita diajak untuk meneladani ketaatan Yesus terhadap kehendak Allah. Dan wujud konkret dari ketaatan kita adalah kerelaan untuk membuka tangan, membuka mata hati, pikiran dan telinga kita terhadap keluhan sesama, dan kemauan baik untuk memposisikan diri secara arif di hadapan tantangan yang terus mewabah. Ketaatan kita akan tetap terjaga kalau kita memiliki kerohanian yang tinggi, doa, ekaristi, kurban dan matiraga, relasi yang baik dengan sesama, setia dalam pelayanan, ada semangat juang, serta menghayati rasa cinta terhadap lingkungan. Sebab kerohanian yang tinggi akan membuat kita mampu mencermati harta (kenikmatan), kuasa dan popularitas dengan kebijaksanaan Ilahi. Dan dalam sikap setia atau semangat juang dalam pelayanan kepada sesama, kita tidak mudah untuk jatuh dalam sikap egois atau ingat diri. Kalau Kristus telah menang atas kuasa iblis, kuasa dosa, mengapa kita yang adalah putera-puteri-Nya yang terkasih mesti takut? Yesus menderita karena dosa-dosa kita, sehingga pantas kalau di masa tobat ini, kita senantiasa membaharui hati kita. Kita diharapkan untuk meajalin kembali relasi yang akrab dengan Allah. Allah tidak membiarkan kita berjalan sendirian, Ia selalu berjalan bersama kita dalam suka maupun duka. Yesus saja…, dicobai? Apalagi kita manusia yang lemah ini. Mungkin selama ini kita masih ragu-ragu akan iman kita terhadap Allah dan Putra-Nya Yesus Kristus? Atau kita lebih terpukau dengan kemegahan dunia lalu menjadi kurang percaya akan kuasa Allah dan kasih karunia-Nya yang besar kepada kita? Dan mungkin juga, kita kurang mengamalkan kasih terhadap sesame? Kita mohon semuanya dari kuasa dan kehendak Tuhan. Kita hanya dituntut untuk membangun kembali relasi yang lebih harmonis dengan Tuhan, membangun persaudaraan sejati dengan sesama serta semakin tekun dalam perjuangan ini. Saat kita menyadari semuanya itu dan bangun semangat baru, kebahagiaan dan kegembiraan Paskah Tuhan nanti sungguh menggema dalam batin, hati, pikiran dan seluruh hidup kita. Kita sungguh dibangkitkan bersama Yesus, Putera Allah. Kita akan selalu merasa bahagia dengan pilihan-pilihan kita karena kita yakin Allah menghendaki agar terjadi atas diri kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco